Selasa, 26 Maret 2013



Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar yang terletak di benua asia, tepatnya di bagian asia tenggara. Karena letaknya diantara dua samudra, yaitu samudra hindia dan samudra pasifik, serta terletak diantara dua benua, yaitu benua asia dan benua Australia, Indonesia memiliki berbagai banyak unsur unsur kebudayaan, seperti berbagai macam bahasa, suku bangsa, agama atau kepercayaan, adat istiadat, kesenian tradisional serta berbaga jenis mata pencaharian yang membentang dari sabang himgga merauke, oleh karena itu Negara Indonesia sering disebut sebagai Negara multikiltural atau Negara yang memiliki berbagai macam budaya.
Sebagai Negara kepulauan, Indonesia mempunyai banyak sekali budaya dan kesenian daerah, misalnya saja reog ponorogo dan kesenian angklung. Reog ponorogo merupakan salah satu kesenian yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat jawa timur yang merupakan asal dari kesenian tersebut. Umumnya  kesenian tersebut terdiri dari dua jenis kesenian yaitu seni tari dan seni musik yang tergabung menjadi sebuah kesenian baru. Pada jaman modern seperti sekarang ini, kesenian di Indonesia semakin berkembang, tak hanya kesenian tradisional, kini muncul istilah kesenian modern. Disebut demikian karena, dalam prakteknya menggunakan instrument atau alat modern seperti, gitar, bass, drum, piano serta alat musik modern lainnya. Musik tersebut banyak dimainkan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak kecil, remaja, hinnga orang dewasa. Karena perkembangan teknologi semakin cepat, akhirnya juga mempercepat tumbuhnya industry musik di Negara Indonesia.
Berbondong bondong orang membetuk grup musik atau band agar mereka dapat menjadi terkenal di kalangan masayarakat, tak hanya itu di beberapa stasiun telivisi swasta setiap hari menanyangkan acara musik tersebut, dengan mendatangakan artis artis terkenal. Selain itu, beberapa stasiun swasta tersebut juga membuat acara semacam pencarian bakat untuk mencetak para musisi musisi baru. Memang indusri musik tersebut banyak mendatangkan keuntungan bagi yang berkecimpung di industri tersebut, akan tetapi, di sisi lain industri musik modern sedikit banyak telah menggeser dan menghapus minat masyarakat Indonesia terhadap musik tradisional, yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak lama, sedangkan musik modern yang sedang mereka gandrungi adalah musik yang bukan berasal dari Negara mereka, melainkan dari luar. Hal yang lebih memprihatinkan lagi yaitu, di manapun tempatnya pasti kita menjumpai beberapa remaja atau orang dewasa sedang asyik bermain band atau dance dan sesekali mengadakan lomba atau festifal. Lantas jika hal ini semakin berkembang, maka bagaimana nasib dari para musisi dan penari tradisional yang kehidupannya semakin buruk akibat music mereka kian tergerus oleh perkembangan jaman. Selain itu juga, sekarang ini para generasi muda mayoritas sudah enggan lagi untuk mengembangkan budaya tradisional tersebut. Jangankan mengembangkan, melihatnya saja mereka sudah tidak mau, alasannya budaya itu sudah kolot atau mereka takut jika mereka tidak mengikuti perkembangan jaman, mereka di cap ketinggalan jaman atau gaptek ( gagap teknologi). Tentunya, jika setiap generasi muda memiliki pandangan demikian, lantas siapa yang kelak akan meneruskan kebudayaan tradisional tersebut.
Selain itu di mana rasa nasionalisme bangsa kita, apakah hanya karena tidak ingin ketinggalan jaman, mereka rela melupakan “identitas” mereka dan beralih mengikuti dan menekuni budaya asing tersebut, yang jelas jelas tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Jika hal ini terus dibiarkan, bagaimana nasip kesenian kesenian tradisional lain di Indonesia. Pada waktu lalu Indonesia dikejutkan dengan di klaimnya kesenian reog ponorogo dan kesenian angklung sebagai salah satu kesenian milik Negara Malaysia. Lantas dengan terjadinya hal ini siapa pihak yang disalahkan, apakah para seniman tradisional tersebut, atau Malaysia yang tiba tiba mengklaim kesenian tersebut sebagai kesenian mereka, ataukah para generasi muda yang enggan untuk melestarikan kembali kesenian tradisional tersebut?. Mungkin kejadian tersebut sebagai peringatan terhadap bangsa Indonesia sendiri yang telah melupakan “identitasnya” sendiri sebagai  Negara multikultural. Di samping itu juga, kejadian tersebut sedikit banyak telah menghina para seniman seniman tradisional yang telah lama melestarikan kesenian tersebut turun menurun yang pada kenyataanya justru di lupakan oleh bangsanya sendiri dan pada akhirnya di klaim oleh Negara lain.
Memang perkembangan teknologi maupun perkembangan budaya harus kita ikuti agar kita dapat beradaptasi dengan perkembngan jaman, akan tetapi jika tindakan yang kita lakukan adalah mengganti kebudayaan yang kita miliki dengan kebudayaan bangsa lain tentu hal itu jelas salah, karena walau bagaaimanapun budaya bangsa merupakan salah satu aset bangsa yang tidak ternilai harganya, selain itu budaya bangsa kita mrupakan salah satu alat pemersatu bangsa, dan jika budaya tersebut hilang atau punah maka apakah masyarakat Indonesia yang terkenal memiliki banyak suku bangsa masi dapat bersatu dan dapat dikatakan sebagi bangsa Indonesia?. Hal inilah yang sebenarnya yang menyebabkan permasalahan permasalahan sosial di Indonesia. Masyarakat seharusnya berintrospeksi atas apa yang sedang mereka alami sekarang ini dan melihat kembali ke dalam diri mereka, siapa sesungguhnya diri kita dan bukan bertanya apa yang kita lakukan.
Rendahnya tingkat pengetahuan dan pendidikan di Indonesia adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap krisis budaya yang kita alami saat ini, bagaimana tidak, mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang masih menggunakan prinsip “ikut ikutan” dalam kehidupan kesehariannya, mereka tidak mempunyai pendirian yang pasti terhadap apa yang mereka lakukan dan apa yang sedang mereka alami sekarang ini, misalnya saja beberapa waktu lalu, Indonesia dikejutkan dengan munculnya boy band smash, yang dengan cepat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, hal itulah yang kemudian menyebabkan boy band menjamur di Indonesia , sampai sampai salah satu telivisi swasta Indonesia membuat acara semacam pencarian bakat, yang tidak lain hanya sebagai motif untuk mencari keuntungan dengan jalan seperti itu, secara umum ajang tersebut memang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas para generasi muda akan seni, namun di sisi lain hal itu sebenarnya telah membodohi dan membutakan bangsa Indonesia sendiri, bagaimana tidak, berbagai remaja dengan susah payah mereka melungkan waktunya hanya untuk mengikuti audisi tersebut hanya demi sebuah keinginan sederhana yaitu ingin terkenal, padahal jika di liat secara intelektual, mereka merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan mewujidkan Negara Indonesia ini menjadi lebih, namun kenyataanya mereka hanya seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, yaitu hanya mencari keuntungan, tanpa memperdulikan hal lain yang tentunya lebih penting.
Sikap lain yang dimiliki oleh para generasi kita adalah kebiasaan lebih suka menyalahkan daripada mencari penyebab dari masalah tersebut, misalnya saja ketika beberapa waktu lalu, kesenian reog ponorogo di klaim Malaysia sebagai kesenian mereka, sontak warga Indonesia marah marah dan ramai ramai mengklaim Malaysia tanpa berfikir mengapa hal tersebut bisa terjadi, seharusnya masyarakat sadar,dan bukan tergesa gesa mengecam dan menghujat. Mereka seharusnya juga mengerti bahwa melestarikan budaya bangsa merupakan kewajiban setiap warga Negara Indonesia, agar tidak terjadi hal hal memalukan seperti itu lagi, hal lain yang menyebabkan terjadinya krisis budaya di Indonesia adalah munculnya hedonisme dan konsumerisme, di Indonesia sekarang ini marak munculnya konser konser band dari luar, atau artis penyanyi dari luar negeri yang tiketnya relatif jauh lebih mahal daripada konser konser dalam negeri yang mayoritas tanpa biaya tiket alias gratis, jika hal ini terus dibiarkan maka pertunjukan pertunjukan kesenian tradisional lambat laun akan menghilang bahkan punah karena tergantikan dengan konser konser band tersebut, hal lain yang ditakutkan yaitu jika tidak ada lagi yang mau melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia, lantas apa yang dapat menjadi identitas bangsa ini kalau melestarikan budayanya sendiri saja tidak mau.
Melihat hal itu, sebaiknya segenap masyarakat harus turut serta melestarikan kebudayaan tersebut tak terkecuali generasi muda, yang seharusnya lebih aktif melestarikan daripada hanya sekedar ikut ikutan meniru gaya hidup orang barat. Masyarakat juga harus meningkatkan kembali minat terhadap kesenian dan budaya daerah agar budaya tersebut tidak punah dan malah berkembang. Selain itu meningkatkan minat terhadap kebudayaan daerah dapat meningkatkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang akhir akhir ini mulai menghilang. Memang bangsa Indonesia sejak dulu terkenal akan keaneragaman budayanya, tetapi akhir akhir ini Indonesia seperti hanya menjadi Negara plagiat, yang hanya bisa meniru, meniru, dan meniru trend yang ada di luar negeri tanpa meikirkan dampak dan akibat yang ditimbulkan. Masyarakat juga harus sadar bahwa pendidikan merupakan hal yang sanat penting bagi kelangsungan hidup mereka di masa depan daripada hanya mengikuti trend trend yang muncul dan kemudian akan menghilang dan hanya menyisakan kesenangan belaka. Fenomena sepeti ini memang banyak dan sering terjadi di nrgara Negara berkembang seperti di Indonesia ini, permintaan akan kebutuhan dan kesenagan, membuat masyarakat berfikir dangkal dan berusaha dengan menghalalkan segala cara hanya untuk memperoleh kesenangan dengan cara cara seperti itu, yang kemudian hal tersebut akhirnya juga ikut menambah angka hedonisme di Indonesia ini.
Masayarakat yang berbudaya, seharusnya tahu dan mengerti bagaimana ia bertindak dan menyikapi hal yang ada di sekelilingnya dengan berpedoman pada nilai nilai luhur bangsa Indonesia, dan bukan sebaliknya malah bersikap seeenaknya seperti tanpa memiliki pendirian, jika hal itu tidak segera di benahi, bagaimana bisa masyarakat Indonesia dapat memiliki daya saing terhadap dunia luar, sedangkan masyarakatnya sendiri minim kreativitas dan lebih suka menjiplak hasil karya orang lain, dan lebih parahnya lagi mereka bangga ketika memakai barang yang bukan buatan bangsa mereka sendiri, termasuk mempraktekan budaya asing di Negara kita, yang jelas jelas tidak sesuai derngan kepribadian bangsa Indonesia. Selain krisis budaya masyarakat Indonesia kini juga sedang mengalami krisi moral dalam kehidupan sehari hari, misalnya saja dapat kita lihat para remaja remaja kita lebih suka melakukan sex bebas dan mengosumsi narkoba tanpa sepengetahuan orang tua mereka, jelas jelas hal itu telah melanggar norma norma sosial. Mereka yang seharusnya serius mengenyam pendidikan di bangku smp atau sma, malah asyik melakukan pesta sex dan markoba yang berujung tindak kriminal yang akhirnya merugikan diri mereka sendiri. Kecanggihan teknologi namun tidak di imbangi dengan pengetahuan yang sepadan  salah satu penyebab maraknya perilaku sex bebas di kalangan remaja kita, tak dapat dipungkiri di mana mana sekarang banyak tersedia warnet ( warung internet ) yang dapat mereka kunjungi kapan saja.  Situ mereka dapat mengakses secara bebas dan leluasa apa saja yang mereka iginkan termasuk situs situs porno, yang sebenarnya belum saanya mereka untuk tahu dan menirunya. Hal lain yang menyebabkan maraknya sex bebas di kalangan remaja yaitu, rendahnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, mereka menganggap anak mereka anak mereka sudah dewasa dan mengeti apa yang baik dan yang buruk, namun faktanya tidak demikian, dunia remaja adalah dunia yang paling labil terhadap dunia luar, mereka( para remaja) sangat mudah terombang ambing dalam sistem pergaulan yang mereka buat sendiri, tanpa dihindari mereka dapat dengan mudah terpengaruh oleh ajakan teman mereka dan akhirnya mereka juga melakukan hal yang sama kepada teman mereka yang lain untuk hal hal tersebut.
Hal lain yang lebih memprihatinkan yaitu, orang tua mereka kebanyakan lebih suka sibuk dengan urusanya masing masing tanpa memperdulikan perilaku anaknya di luar rumah, akibatnya anak menjadi minim perhatian, dan mencari perhatian atau kesenangan dengan melakukan hal hal seperti sex bebas dan mengosumsi narkoba. Fenomena serupa kita jumpai di lingkungan intelektual yaitu kampus, kampus yang idealnya menjadi tempat untuk berdiskusi dan mengembangkan ilmu pengetahuan, kini berubah fungsi menjadi sarana untuk pamer kekayaan. Para mahasiswa yang idilai sebagai agent of change kini hanyalah berupa kalangan yang tak lain dan tidak bukan setelah lulus menjadi pencari kerja, para mahsiswa juga dikenal memiliki kebutuhan yang banyak, saking banyaknya kebutuhan yang ingin mereka penuhi, mereka rela “menjual diri” mereka demi mendapatkan uang, dengan kata lain mereka selain berprofesi sebagai mahasiswa, mereka juga berprofesi sebagai “ayam kampus” ( pekerja sex di lingkungan kampus ). Sungguh ironis memang, mendengar fakta seperti itu, munculnya para “ayam kampus” di lingkungan para intelektual kita menjadi bukti bahwa angka hedonisme di kalangan intelektual kita sangat tinggi. Fenomena lain hedonisme kita jumpai dikalangan pejabat DPR kita. Para pejabat yang seharusnya menjadi wadah aspirasi dan pengeksekusi keinginan rakyat, kini berbalik fungsi menjadi pengguna uang rakyat. Bagaimaana tidak, para pejabat tersebut dengan leluasa menggunakan uang rakyat hanya untuk merenovasi ruang kerja dan membeli mobil mobil mewah yang sebetulnya tidak perlu dilakukan. Selain bermewah mewahan mereka juga melakukan korupsi terhadap uang rakyat demi meningkatkan keuntungan mereka semata. Jika melihat banyak fakta seperti ini, apakah masih layak kita untuk berdiam diri dan menutup mata atas semua yang terjadi di Indonesia, apakah masih layak menyebut kita sebagai masyaraakat yang berbudaya?. Tentunya jika menjawab kita harus kembali kepada hati nurani kita sendiri, karena dengan hati nuranilah kita dapat mengerti apa yang sebenarnya yang kita inginkan, jika tidak maka kita hanya akan menuruti dan menuruti hawa nafsu kita dan terjerumus kedalam kehancuran. Maka dari sekarang kita harus segera berintrospeksi dan berbenah terhadap apa yang sudah kita lakukan, agar kita tidak menjadi slah satu dari generasi perusak bangsa, yang kini jumlahnya semakin hari semakin banyak, dan semakin merusak Negara tercinta kita Indonesia. Oleh karena itu jika bukan kita yang melakukan siapa lagi yang akan mengubah wajah Indonesia ini menjadi Negara yang lebih baik dan bermartabat dan bukan menjadikan Negara kita sebagai tempat bermukimnya para “musuh” yang sewaktu waktu bisa menghancurkan Indonesia, bahkan memecah belah persatuan.

Sumber :
http://hardika.blog.fisip.uns.ac.id/2012/04/03/indonesia-sebuah-negara-multikultural-atau-negara-yang-krisis-budaya/




Rabu, 20 Maret 2013

Manusia dan Kebudayaan


Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini.  Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku.Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan  manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya Manusia.

Pokok-pokok dalam pembahasan manusia dan kebudayaan, diantaranya :

1.      Unsur-Unsur Pembangun Manusia

Ada dua pandangan yang dapat dijadikan sebuah acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia, yaitu diantaranya :

1)   Manusia terdiri dari empat unsur terkait, yaitu :

a.       Jasad,

b.      Hayat,

c.       Ruh,

d.      Nafs.

2)   Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :

a.       Id
Unsur tersebut merupakan libido murni,atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcious). Terkurung dari realitas dan pengaruh sosial, Id diatur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingsual libidinal yang harus dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual, atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan.

b.      Ego
Unsur ini adalah bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.

c.       Superego
Unsur ini merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua.


2.      Hakikat Manusia

Hakikat manusia adalah sebagai berikut :


a.       Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi   kebutuhan-kebutuhannya.
b.      Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual     dan sosial.
c.       Makhluk yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya    dan mampu menentukan nasibnya.
d.      Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai    (tuntas) selama hidupnya.
e.       Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
f.       Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
g.      Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h.      Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.


3.      Kepribadian Bangsa Timur

1.      Hospitality
Maksud dari sifat tersebut menunjukkan bahwa bangsa timur memiliki sifat yang ramah dan sopan serta mudah bersosialisasi dengan bangsa lainnya. Sikap peduli terhadap lingkungan sekitar membuat bangsa timur mudah bergaul berbeda dengan bangsa barat yang cenderung hidup lebih individualis.
2.      Hardworking
Pekerja keras merupakan sifat yang tidak bisa dianggap remeh. Bangsa Timur dikenal dengan orang-orangnya yang tidak mudah menyerah, rajin dan bersungguh sungguh saat melakukqan sesuatu apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan.
3.      Religius & Well-cultured
Bangsa timur juga terkenal karena keragaman ras dan kebudayaan. Tidak hanya menang kuantitas, hal utama yang menjadi pedoman hidup bangsa timur adalah tradisi dan agama. Karena keterikatan dengan adat dan budaya menjadikan pembatas individu-individu bangsa timur untuk mencapai potensi maksimalnya.
4.      Respect for Elders
Bangsa timur dikenal dengan kesopanannya dan menjunjung tinggi norma kesopanan. Adat yang berlaku di lingkungna bangsa timur sangat berpengaruh terhadap kesopanan orang-orangnya.
5.      Diligent
Karena bangsa timur dikenal pekerja keras dan rajin ini menyebabkan bangsa timur cerdas dan pantang menyerah.
6.      Attached to Norms
Sebagai bangsa timur, dikenal amat menjunjung tinggi norma-norma. Bangsa timur cenderung judgemental menyangkut hal-hal yang bertentangan dengan norma.

7.      Strong family Ties
Kebanyakan orang-orang bangsa timur sangat bergantung pada keluarganya. Keluarga menjadi faktor utama dalam hal mempertimbangkan banyak hal seperti urusan jodoh dan karir.

Kepribadian bangsa timur sangat identik dengan benua Asia khususnya Indonesia. Kepribadian bangsa timur identik menjunjung nilai kesopanan yang lebih tinggi dibanding budaya barat. Selain itu, kepribadian bangsa timur khususnya Indonesia juga lebih terbuka dan ramah tamah terhadap bangsa atau negara lain. Bangsa timur juga amat peduli dengan orang lain hal ini dibuktikan dengan adanya sikap saling tolong menolong dengan sesama dan bergotong royong. Dan kebanyakan masyarakatnya lebih agamis.
Ini sangat berbeda dengan kepribadian bangsa barat yang bersifat liberal serta lebih individualis dan egois dalam kehidupan bermasyarakat.

4.      Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

5.      Unsur-unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1.      Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
a.       alat-alat teknologi
b.      sistem ekonomi
c.       keluarga
d.      kekuasaan politik
2.      Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
a.       sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
b.      organisasi ekonomi
c.       alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
d.      organisasi kekuatan (politik)


6.      Wujud dan Komponen Kebudayaan
v  Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.      Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
v  Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :
1.      Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2.      Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
3.      Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
4.      Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
5.      Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
6.      Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.


7.      Orientasi Nilai Budaya
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dimiliki secara bersama oleh warga suatu masyarakat. Pengetahuan yang telah diakui sebagai kebenaran sehingga fungsional sebagai pedoman. keseluruhannya digunakan secara selektif dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan atau persoalan yang dihadapi. penggunaan pengetahuan oleh orang perorangan atau kelompok orang tau masyarakat, menggambarkan bahwa sejatinya pengetahuan dimaksud telah dipahami, diserap dan diyakini berkat adanya suatu proses pendidikan panjang (dari kecil sampai dewasa) dalam bentuk internalisasi dan sosialisasi.
Terdapat banyak nilai kehidupan yang ditanamkan oleh setiap budaya yang ada di dunia. Nilai kebudayaan pasti berbeda-beda pada dasarnya tetapi kesekian banyak kebudayaan di dunia ini memiliki orientasi-orientasi yang hampir sejalan terhadap yang lainnya. Jika dilihat dari lima masalah dasar dalam hidup manusia, orientasi-orientasi nilai budaya hampir serupa.
Lima Masalah Dasar Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia ( kerangka Kluckhohn ) :
v  Hakekat Hidup
·         Hidup itu buruk
·         Hidup itu baik
·         Hidup bisa buruk dan baik, tetapi manusia tetap harus bisa berikthtiar agar hidup bisa menjadi baik.
·         Hidup adalah pasrah kepada nasib yang telah ditentukan.
v  Hakekat Karya
·         Karya itu untuk menafkahi hidup
·         Karya itu untuk kehormatan.
v  Persepsi Manusia Tentang Waktu
·         Berorientasi hanya kepada masa kini. Apa yang dilakukannya hanya untuk hari ini dan esok. Tetapi orientasi ini bagus karena seseorang yang berorientasi kepada masa kini pasti akan bekerja semaksimal mungkin untuk hari-harinya.
·         Orientasi masa lalu. Masa lalu memang bagus untuk diorientasikan untuk menjadi sebuah evolusi diri mengenai apa yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak dilakukan.
·         Orientasi masa depan. Manusia yang futuristik pasti lebih maju dibandingkan dengan lainnya, pikirannya terbentang jauh kedepan dan mempunyai pemikiran nyang lebih matang mengenai langkah-langkah yang harus di lakukann nya.
v  Pandangan Terhadap Alam
·         Manusia tunduk kepada  alam yang dashyat.
·         Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam.
·         Manusia berusaha menguasai alam.
v  Hubungan Manusia Dengan Manusia
·         Orientasi kolateral (horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya, barjiwa gotong royong.
·         Orientasi vertikal, rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh yang mempunyai otoriter untuk memerintah dan memimpin.
·         Individualisme, menilai tinggi uaha atas kekuatan sendiri.


8.      Perubahan Kebudayaan
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut.
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1.      Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
2.      Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalamsuatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain aturan-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian), dan bahasa.
Beberapa factor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsure kebudayaan baru, antara lain:
a.       Terbatasnya masyaratak memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
b.      Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominant dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsure baru itu mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandasan ajaran agama yang berlaku.
c.       Corak struktur social suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.
d.      Suatu unsure kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadikan landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
e.       Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas, dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

9.      Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain, proses dialektis tercipta melalui tiga tahap, yaitu :
1.      Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
2.      Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif.
3.      Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disegrap kembali oleh manusia.
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat atu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan.

sumber:
http://siscaellia.wordpress.com/2012/04/22/manusia-dan-kebudayaan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://saddamhuseinritonga.blogspot.com/2012/03/manusia-dan-kebudayaan.html
http://www.scribd.com/doc/39698425/Orientasi-Nilai-Budaya
http://www.scribd.com/doc/38517404/Orientasi-Nilai-Budaya-Manusia


Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan


v  PENDEKATAN KESUSASTRAAN
Kesusastraan biasanya dihubungkan dengan sastra dan seni. Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada“kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Sedangkan Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.

Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.
Suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermakna kematian dan mawar merah yang berarti cinta)
Di zaman sekarang, sastra sudah menjadi karya seni yang begitu banyak digunakan orang sebagai media penyaluran ekpresi mereka. contohnya antara lain : Novel, Cerita/cerpen (tertulis/lisan), Syair, Pantun, Sandiwara/drama, Lukisan/kaligrafi, dan lain-lain. selain penyalur bakat dan ekpresi seni seorang manusia, sastra juga berfungsi sebagai suatu teknik berkomunikasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. seperti tradisi budaya Betawi yang mewajibkan untuk berpantun sebagai kata sambutan antar mempelai disaat mereka menikah.
Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya. dan bayangkan jika manusia hidup tanpa seni. jika manusia hidup tanpa bisa menyalurkan ekspresi mereka. jika manusia tidak bisa berkomunikasi dengan manusia lainnya. maka akan menggangu kejiwaan atau psikologis manusia tersebut.

v  ILMU BUDAYA DASAR YANG DI HUBUNGKAN DENGAN PROSA
Dalam kesusastraan Indonesia ada 2 jenis prosa yaitu prosa lama dan baru :
A.    Prosa lama :
  1. Dongeng-dongeng
  2. Hikayat
  3. Sejarah
  4. Epos
  5. Cerita pelipur lara

B.     Prosa baru :
  1. Cerita pendek
  2. Roman/novel
  3. Biografi
  4. Kisah
  5. Otobiografi

v  NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI
Ø  Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan.
Ø  Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat didalam ensiklopedi. Dalam novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih dari pada sejarah atau laporan jurnalistik tentang khidupan msa kini, masalalu, bahkan kehidupan yang akan datang.
Ø  Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat memberikan imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
Ø  Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda dari pada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri.

v  ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI
Puisi termasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang / unsur dari kebudayaan. Kalau diberi batasan, maka puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia,alam, dan tuhan melalui media bahasa yang artistik/esletik, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Kreativitas penyair :
1.      Figura bahasa ( figurative language ) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dsb.
2.      Kata-kata yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3.      Kata-kata berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4.      Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan asosisi-asosiasi tertentu.
5.      Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan sehingga lebih menggugah hati.
Alasan penyajian puisi :
1.      Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia
Perakaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut " pengalaman perwakilan". Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas.
2.      Puisi dan kesadaran individual
Dengan membaca puisi mahasiswa dapat diajak untuk dapat menjenguk hati/pikiran manusia, baik oranglain maupun diri sendiri.
3.      Puisi dan kasadaran sosial
Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang terlibat dalam isue dan problem sosial. Secara imaginatif puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa :
·         Penderitaan atas ketidak adilan
·         Perjuangan untuk kekuasaan
·         Konflik dengan sesamanya
·         Pemberontakan terhadap hukum Tuhan
Puisi umumnya sarat akan nilai-nilai etika, estetika dan juga kemanusiaan. Salah satu nilai kemanusiaan yang banyak mewarnai puisi-puisi adalah cinta kasih.

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra
http://id.wikipedia.org/wiki/Seni
http://rrim.wordpress.com/2012/10/28/konsepsi-ilmu-budaya-dasar-dalam-kesusastraan/
http://camillainsaniputri.blogspot.com/2012/06/konsep-ilmu-budaya-dasar-dalam.html